Tambang untuk Kesejahteraan, Bukan Kesengsaraan

15-04-19 Admin 0 comment

Mengeksplorasi tambang membutuhkan komitmen berkesinambungan, dari mulai pleaning/perencanaan, pengawasan dan evaluasi. Komitmen itu sebagai mata rantai dari pola eksplorasi, pasar, kuota ekspor dan impor. 

Konservasi alam dalam sistem pertambangan orientasinya untuk kesejahteraan. Bukan sebaliknya, konservasi alam dan eksplorasi pertambangan bukan untuk kesengsaraan. Demikian diungkapkan Ir. Bambang Gatot Ariyanto, M.M. DESS, Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) di kampus Babarsari, Sleman, Minggu (14/04/2019). 

Seminar bertema ‘The Application of The Nature Concervation of Indonesian Mining System’ dibuka Rektor ITNY, Dr. Ir. H. Ircham, M.T. Seminar menghadirkan Prof. Dr. Ir. Komang Anggayana MS (Pertambangan ITB), Ir. Rizal Kasli IPM (Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia/Perhapi), Adi Risfandi, S.T., M.M. (Kepala Teknik Tambang PT Mifa Bandung). Hadir pula dalam kesempatan itu Dr. Hil Gendoet Hartono, S.T., M.T. (Wakil Rektor III ITNY) dan menyerahkan cenderamata kepada para pembicara.

Menurut Bambang Gatot, konservasi pertambangan apabila tidak terkendali, tidak direncanakan, pengawasan dan evaluasi, setelah melakukan penambamgan meninggalkan masalah. “Itu bisa terjadi eksplorasi dan produksi kurang diperhitungkan,” ujarnya. Dalam proses penambangan, konservasi perlu cermat. Setidaknya mengacu pada Undang-Undang nomor 5 tahun 1990, konservasi sumber daya alam, hayati dan ekosistemnya. Konservasi alam suatu manajemen terhadap alam dan lingkungan secara bijaksana untuk melindungi tanaman dan hutan.

Sedangkan Prof Komang Anggayana mengatakan, melakukan eksplorasi bahan tambang seperti mengambil pohon ketela. “Kalau ingin merusak pohon ketela itu, cabut saja seketika,” ujarnya. Saat pohon ketela dicabut, bisa saja ada beberapa ketela yang tertinggal di tanah. Eksplorasi bahan tambang itu, bagaimana memperlakukan pohon ketela dengan baik. Maksudnya, potensi bahan tambang yang  terpendam, serta tidak tahu persis membutuhkan konservasi yang berkesinambungan atas ketersediaan, yakni pengelolaan yang cermat. Untuk itu, ada 3 faktor, yakni orangnya, modal dan nasib atau keberuntungan.