Program Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia untuk kejayaan Bangsa

11-10-19 Admin 0 comment

Dalam rangka mendukung upaya pemerintah menghadapi bonus Demografi 2030, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) yang merupakan perubahan dari STTNAS menyelenggarakan diskusi panel Tantangan dan Terobosan 4.0 pada hari Jumat, 4 September 2019 di kampus ITNY. Nara sumber dalam diskusi ini adalah Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto, ST, MSc, PhD.  Diskusi ini mengambil tema “Vokasi kuat, dan menguatkan Indonesia”.

Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika di lingkungan ITNY dan dibuka langsung oleh Rektor ITNY, Dr. Ir. H. Ircham, M.T. Dalam sambutannya, Ircham mengungkapkan komitmen ITNY untuk mendukung upaya pemerintah menciptakan SDM Unggul dalam menghadapi bonus Demografi.  Ia juga berharap bahwa diskusi ini dapat memberikan banyak masukan tentang rencana vokasi ITNY yang akan segera membuka program D4, bagaimana  peluang lulusan program vokasi, pengelolaan program vokasi dan sharing kurikulum.

Wikan menjelaskan bahwa dalam menghadapi bonus demografi  2030, salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Maju adalah mencetak SDM-SDM yang unggul melalui mahasiswa vokasi.  Pemerintah harus terus mendukung dunia pendidikan.  “Jika kita tidak bisa menghandle mengembangkan pendidikan yang baik, maka berkah demografi akan menjadi bencana demografi” jelas Wikan

Selanjutnya, Wikan mengatakan bahwa lulusan sarjana yang diharapkan oleh industri saat ini yaitu kompetensi, hal ini berarti bahwa kalimat yang muncul adalah “aku bisa apa”. Berbeda dengan “Ijazah” yang berarti “aku sudah belajar apa”. Ia mengatakan behwa zaman sekarang ini perubahan begitu cepat, sehingga seharusnya generasi-generasi yang akan datang bukan merupakan suatu penghafal. “cetaklah pembelajar mandiri sepanjang hayat”, terang Wikan.

Wikan menegaskan bahwa program pendidikan tinggi vokasi D4 dikembangkan dengan konsep link and match antara kampus dan industri sehingga kurikulum dan tim pengajar dikembangkan dengan kolaborasi antara kampus dan industri . Hal ini berarti Kurikulum harus disusun bersama dengan Industri. Selain itu, Pengajar harus berasal  dari kampus,  praktisi, birokrasi dan industri. Selanjutnya, Lulusan D4 harus memperoleh ijazah dari kampus dan sertifikasi dari industri/asosiasi profesi. Beasiswa juga harus diperoleh dari industri dan pemerintah seperti  biaya laboratorium, praktek magang,dll. Di akhir masa pembelajarannya, lulusan program Sarjana Terapan ini akan memiliki ijazah dan transkrip, sertifikasi kompetensi sebagai sertifikat pendamping ijazah dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sertifikat kemampuan berbahasa Inggris, serta prototype atau produk yang bisa dimanfaatkan oleh user/masyarakat/industri.