Indonesia Minim Ahli Gunung Api

27-02-17 Admin 0 comment

Keberadaan sumber yang bernilai ekonomi dan strategis serta potensi bencana yang sangat ritmik, dapat didekati dengan geologi. Disisi lain peneletian berbasis geologi gunung kurang giat dilakukan di bandingkan peneltian yang berhubungan dengan kebencanaan. Keberadaan gunung berapi berumur kuarter (gunung api aktif) dan batuan gunung api yang berumur tersier (gunung api purba) sangat melimpah di indonesia. Namun lokasi sumber gunung api sebagai penghasil batuan gunung api belum di ketahui pasti. Oleh sebab itu penelitian gelogi berbasis gunung api sangat perlu dilakukan ujar Dr. Hill Gendoet Hartono, S.T.,M.T. dalam orasi ilmiahnya pada acara Dies Natalis STTNAS ke-44. Beliau menyampikan materi Paleovolkano dengan tema Prinsip dasar cara mengenal dan kegunaannya itu dalam di kampus STTNAS babarsari, kamis 23/02/17.

Kegiatan yang di buka oleh Ketua STTNAS Ir. H. Ircham, M.T. tersebut di ikuti para dosen, mahasiswa dan pihak terkait lainya. Menurut Hill gunung api adalah tempat atau lokasi bukaan keluarnya material pijar, panas, membara dan umumnya bersama sama dengan gas, kepermukaan bumi dan mengendap di sekitar bukaan (kawah) membentuk gunung api. Istilah Paleovolknao merujuk pada sisa tubuh gunung api yang telah berumur sangat tua, sudah tidak aktif atau mati, fosil gunung api atau gunung api purba. Dr.Hill yang merupakan pioner di bidang paleovolakano mengakui, studi pasca srjana gunung api dan penelitian kebumian berbasis gunung api di indonesia masih terbuka lebar, baik penelitian dasar atau fisik dan terapannya.

Selain itu, orang yang ahli di bidang gunung api di indonesia sangat terbatas. Hal ini mungkin dapat dikatakan sangat ironis, mengingat indonesia kaya akan gunung api, namun masih sedikit ahli gnung api asal indonesia. Karena itu peluang untuk menjadi pakar atau peneliti gunung api diharapkan menjadi urutan prioritas bagi lulusan STTNAS.