Drum Bekas Jadi Kincir Penggerak Pompa Air Karya Mahasiswa STTNAS Yogyakarta

25-07-16 Admin 0 comment

Berawal dari keinginan memanfaatkan barang bekas sekaligus mengembangkan energi terbarukan, lima orang mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta berhasil menciptakan kincir angin penggerak pompa air untuk pengairan rumput pakan ternak kambing di lahan pasir. Kincir angin yang di buat dengan dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti senilai Rp.7,5 juta itu pun telah di serahkan kepada kelompok Ternak Menda Ngrembaka, Patihan Gading Sari Sanden Bantul, untuk dimanfaatkan.

Secara fisik, perbedaan mencolok kincir angin karya kami dengan kincir – kincir angin lainya yang sudah ada di Pantai Selatan Bantul adalah bahan baku dan bentuknya. Kami mengadopsi kincir sumbu vertikal, sedangkan kebanyakan kincir angin di Pantai Baru maupun Pandansimo bersumbu horisontal. Selain itu, bahan bakar kincir angin yang kami gunakan adalah limbah/drum bekas, papar Dimas Anggoro S, mahasiswa Teknik Mesin (S1) STTNAS di kampus Babarsari Sleman Yogyakarta, Sabtu (237).

Tim Mahasiswa STTNAS ini di ketuai oleh Arif P (Teknik Elektro), dengan anggota Dimas Anggoro, Rivan M (Teknik Mesin) dan Pidri (Tekniki Elektro) dengan Dosen Pembimbing Dandung Rudy Hartana, S.T., M.eng. Ketua STTNAS Ir. H. Ircham. M.T. dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Dr. Hill Gendoet, S.T., M.T. pun mengapresiasi karya mahasiswan tersebut, karena merupakan teknologi tepat guna yang langsung bisa di rasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Prinsip kincir angin yang terbuat dari limbah drum bekas yang didesain efektif, efisien dan ekonomis ini adalah menggerakan pompa air untuk mengangkat air dari dalam sumur yang sudah ada sebelumnya, kemudian airnya dialirkan untuk menyirami rumput maupun tanaman lainya yang menjadi sumber pakan ternak kambing warga pesisir.

Mengingat karakteristik angin pantai yang tidak stabil, maka perputaran kincir angin ini direkayasa agar baling –baling bisa membuka saat angin bertiup lambat dan menutup saat angin bertiup kencang, sehingga putaran angin kincir tetap stabil. Sementara kendala yang umumnya menyerang kincir angin di lahan pantai dari laut yang mengandung garam sehingga bersifat korosif dan membuat material logam cepat berkarat. Sebenarnya kalau tidak melalui penelitian terlebih dahulu, kincir angin seperti ini bisa dibuat hanya dengan biaya sekitar Rp.3,5 juta. Namun karena kami harus melakukan penelitian terlebih dahulu, anggarannya sampai Rp.7.5 juta. Total waktu penelitian dan pengerjaan sekitar 4.5 bulan, papar Dimas.

DSC_0511

DSC_0527

DSC_0709

IMG-20160720-WA0004 - Copy