Drone Mahasiswa STTNAS Sabet Juara 2 BCC Malang.

21-11-17 Admin 0 comment

Drone rancangan mahasiswa STTNAS (Sekolah Tinggi Teknologi Nasional) Yogyakarta berhasil menyabet Juara 2 dalam ajang kompetisi Brawijaya Copter Competition (BCC) ke-4 di Universitas Brawijaya Malang yang berlangsung pada 17 – 18 November 2017.

Koordinator Teknis Drone STTNAS Abdi Gespen menuturkan timnya sempat mengalami kendala teknis pada tahap Flight performance. Sensor drone mengalami gangguan kestabilan yang dikarenakan unconnected salah satu chanel pada transmitter dan receiver drone.

“Sehingga kami harus menganalisa dan mencari ulang permasalahan yang terjadi pada drone dalam waktu yang sangat terbatas,” kata Gespen dalam rilis yang diterima sttnasnews, sabtu 18 November 2017. Beruntung masalah itu bisa segera dipecahkan. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa tim Drone STTNAS mampu mengungguli peserta dari kampus-kampus terkemuka di Indonesia dalam ajang kompetisi skala nasional ini.

Adapun, STTNAS merupakan satu-satunya tim dari perguruan tinggi swasta yang mengikuti ajang kompetisi skla nasional tersebut dan berhasil mengungguli 2 tim tuan rumah dari Universitas Brawijaya. Keunggulan Catur Cahyono Drone tim STTNAS ada pada manuverability (kemampuan bermanuver) dan aerobatic dalam mengambil beban atau barang dari titik take off lalu melintasi beberapa halang rintang dan mencapai titik poin maksimal pada zona landing drone untuk peletakan beban serta pendaratan pada zona-zona yang yang telah di tentukan.

Dengan kemampuan tersebut, ke depannya, catur Cahyono Drone Tim STTNAS dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kerja manusia di udara guna menunjang aktivitas di bidang seperti industri serta penanganan bencana.
Dalam kompetisi ini ada dua tahap penilaian yaitu static judging dan performance/dynamic drone. Pada tahapan static juding, kemampuan akademis dan pemahaman teknikal yang mendalam menjadi penilaian utama dan dipresentasikan di hadapan para juri.

Sedangkan pada tahapan Performance drone, para kontestan diminta untuk menunjukkan kemampuan drone dalam menyelesaikan 2 misi kompetisi, yaitu FPV (first person view) dimana pilot tidak dapat dapat melihat langsung drone melainkan hanya mengandalkan kamera yang terpasang pada drone melalui Vision System, Penghindaran Rintangan (obstacle avoidance), Aerobatic, aerografis, hingga kemampuan drone untuk terbang rendah sampai landing pada zona landing paling tengah.

Turnamen ini telah diselenggarakan 4 kali dan pada tahun ini diikuti sejumlah Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta seperti UGM, UNS, ITS, Universitas Diponogoro, Universitas Hasanudin, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, Polban dan Universitas Brawiajaya sebagai tuan rumah.