Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) kembali mengadakan seminar nasional yang diadakan secara rutin setiap tahunnya yaitu seminar ReTII (Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi) pada hari Sabtu tanggal 24 November 2018, Seminar dibuka langsung oleh Ketua STTNAS Dr. Ir. H. Ircham, M.T. pada pukul 09.00 WIB, Turut hadir pula Pembantu Ketua I,II,III STTNAS dalam acara pembukaan seminar ReTII.

Tema yang di angkat pada Seminar ReTII ke-13 tahun ini adalah “ Teknologi Dan Inovasi Disrupsi Pembentuk Karakter Bangsa “ Sebagai Keynote Speaker Seminar adalah Ir. Agus Sumaryanto M.S.M. beliau merupakan Kepala Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN)Pusat di Jakarta.Bertindak selaku moderator Dr.Hill Gendoet H.ST.MT.(Dosen Teknik Geologi STTNAS dan sekaligus Pembantu Ketua III STTNAS).

Dalam kajiannya Ir. Agus Sumaryanto M.S.M.mengangkat isu tentang Teknologi dan Aplikasinya sebagai Keunggulan Daya Saing pada Era Disrupsi. Agus Sumaryanto menekankan, era disrupsi kini sudah tidak terhindarkan lagi. Berbagai perubahan terjadi di semua lini. Karena itu, yang bisa dilakukan sekarang adalah menghadapinya dengan berbagai kemampuan. Dalam bidang teknologi, nuklir merupakan salah satu teknologi yang dapat dikembangkan di berbagi bidang kehidupan manusia baik energy maupun nonenergi. Di Bidang energy missal untuk pembangkit tenaga listrik, sedangkan di bidang nonenergi bisa dikembangkan untuk pertanian, peternakan, kesehatan dan sebagainya.

Seminar ReTII ke-13 ini diikuti oleh 115 pemakalah dari berbagai disiplin ilmu teknik baik akademisi maupun praktisi dari perguruan tinggi/instansi di Indonesia. Dan kegiatan ini di dukung oleh STTNAS, CV INC (Iman Nurcahaya) salah satu alumni STTNAS yang sukses bergerak dalam bidang Jasa Engineering dan Manufacture di Bandung, Terminal Elektronika Sekawan (TES) Perusahaan khusus dalam bidang uji dan instrumen pengukuran dan sistem pelatihan pendidikan berlokasi di Jakarta serta Multi Teknik Group yang bertempat di yogyakarta bergerak di Bidang kontraktor segala macam bangungan antara lain Berupa Gedung,Jalan,taman,perairan dan juga di Bidang Mekanikal elektrikal Gedung baik berupa Penerangan,Pengadaan Sambung Daya Baru, Hydrant Splinker, Panel-Panel listrik, Pengadaan Genserator set dan perlengkapan kebutuhan listrik lainya.

 

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Selandia Baru. Kunjungan kerja dilakukan bersama dengan LLDIKTI dan beberapa PTS dalam rangka penjajakan kerjasama. STTNAS dalam kunjungan kerja ini di wakili oleh Kepala Bidang Kerjasama STTNAS Dr. Hita Pandita, S.T., M.T. yang memperkenalkan STTNAS sebagai perguruan tinggi yang akan bergerak dibidang pengembangan teknologi untuk energi masa depan (Technology for future energy).

Kunjungan kerja di awali di ibu kota Selandia Baru Wellington dengan mengunjungi Otago University. Selain ke Otago University juga dilakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington. Pemaparan tentang rencana STTNAS sebagai PT yang bergerak di bidang energi masa depan mendapat sambutan yang baik di Otago University dan juga dari Duta Besar RI Tantowi Yahya.

Selain mengunjungi kota Wellington juga dilakukan kunjungan di 2 universitas di Auckland. Kedua universitas tersebut adalah University of Auckland dan Auckland University of Technology (AUT). Pemaparan STTNAS tentang pengembangan renewable energi dan rencana pengembangan SDM untuk studi S3 dibidang renewable energi mendapat sambutan positip di kedua universitas tersebut. Penendatangan MOU sempat dilakukan antara APTISI dengan AUT yang diikuti dengan semua PTS yang hadir pada saat itu.

Informasi yang menarik adalah adanya peluang S3 di University of Auckland yang sudah terjalin dengan beasiswa dari LPDP, Ristekdikti, dan beberapa lainnya. Selain itu biaya insistusi fee yang relatif rendah di University of Auckland. Sumber:(hita)

STTNAS Yogyakarta mendapat kunjungan dari Universitas Islam Riau, Kamis(22/11) di Kampus STTNAS Yogyakarta. Kunjungan ini dilakukan untuk membicarakan penjajakan kerja sama antara Universitas Islam Riau dengan STTNAS. Kedatangan Pimpinan Universitas Islam Riau disambut oleh Ketua Pengurus YPTN Ir. H. Otto Santjoko, M.T., Ketua STTNAS Dr. Ir. H. Ircham, M.T., Pembantu Ketua I, II, III beserta Ketua Jurusan Teknik Mesin S1 STTNAS, Ketua Jurusan Teknik PWK S1 STTNAS, Ketua Jurusan Teknik Sipil S1 STTNAS.
Pada pertemuan yang membahas kemungkinan-kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan kedua belah pihak ini, Dr. Ir. H. Ircham., M.T., menyatakan suatu kehormatan bagi STTNAS Yogyakarta. untuk dapat bekerja sama dengan Universitas Islam Riau pun berharap kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian praktek kerja dan lain-lain yang dapat dilakukan.
Pada kesempatan ini, Dekan Teknik, Ir Abdul Kudus, M.T. beserta WaDek 2, KA. BAU, dan dosen sipil, Muttaqien, S.T., M.T. dari Universitas Islam Riau , untuk menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan. Abdul Kudus, Universitas Islam Riau menyampaikan bahwa STTNAS menjadi salah satu perguruan tinggi yang maju, dengan jumlah prodi dan mahasiswa yang besar serta prestasi yang membanggakan serta akan berubah menjadi Institut. Beliau mencoba untuk penjajakan kerjasama dengan STTNAS.
Di akhir pertemuan tersebut dengan menukar cinderamata serta untuk berfoto bersama antara pimpinan Universitas Islam Riau dengan pimpinan STTNAS.

Popularitas Pantai Baros di Bantul sebagai tempat wisata ikut mengancam keberadaannya sebagai kawasan konservasi mangrove. Untuk menjaganya, Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI bersama warga Baros menanam puluhan bibit mangrove (17/11/18).

Ini merupakan kegiatan kedua penanaman mangroveyang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI. Berbeda dengan kegiatan penanaman mangrove tahun lalu, kali ini akan dilakukan pemantauan akan kondisi mangrove yang sudah ditanam setiap bulannya.

Mangrove adalah sebutan untuk semua jenis tumbuhan pesisir di daerah pasang-surut, yang sifatnya toleran terhadap garam. Sementara itu, bakau adalah sebutan untuk salah satu jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia, yaitu jenis Rhizophora.

Muara sungai opak Pantai Baros memiliki konservasi mangrove seluas 8 Ha dimana telah terdapat kawasan untuk pencadangan. Surat keputusan (SK) Bupati Bantul No, 284 tahun 2014., telah mencadangkan kawasan konservasi Taman Pesisir di Kabupaten Bantul seluas 132 Ha yang terbagi menjadi tiga zona yaitu zona inti seluas 10 Ha, zona pemanfaatan terbatas seluas 28 Ha, dan zona pemanfaatan lainnya seluas 94 Ha.

Kondisi hutan mangrove di Indonesia kritis. Indonesia memiliki lahan mangrove seluas 3,48 juta hektar, tapi 1,8 juta hektar di antaranya rusak. Pada akhir 2017, terjadi banjirdi Kabupaten Bantul yang menyebabkan setidaknya 10 hektar tanah di kawasan pesisir mengalami abrasi terkikis, serta menghanyutkan ribuan bakau yang terdapat di pantai Baros.

Untuk melaksanakan kegiatan menanam mangrove Pantai Baros dipilih sebagai tempat yang tepat karena Pantai Baros merupakan kawasan hutan Mangrove sejak 2013. Alasan lain dipilih adalah karena saat ini Pantai Baros tak hanya menjadi kawasan hutan mangrove namun juga kawasan wisata, lambat laun penduduk yang tinggal di dusun Baros semakin bertambah, hal ini memberikan dampak negatif pada petumbuhan mangrove seperti sampah-sampah yang berada di kawasan hutan mangrove.

ankara escort
çankaya escort
ankara escort
çankaya escort
ankara rus escort
çankaya escort
istanbul rus escort
eryaman escort
ankara escort
kızılay escort
istanbul escort
ankara escort
istanbul rus Escort
atasehir Escort
beylikduzu Escort

Oleh karena itu, rehabilitasi lahan dibutuhkan agar ekosistem mangrove di Pantai Baros bisa kembali berfungsi dengan baik. Melalui kegiatan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI, mengajak semua individu untuk peduli dengan alam, dengan ikut berkontribusi.

Proses menanam mangrove yang dilakukan di Pantai Baros (17/11/18).
Kegiatan menanam mangrove ini mengangkat tema “Save Earth for Our Future” dilaksanakan pada Sabtu ,17 November 2018di Kawasan Hutan Mangrove Muara Sungai Opak di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.

Rehabilitasi dengan penanaman pohon mangrove merupakan bagian program dari Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI, yang masuk dalam rangkaian kegiatan peduli alam dalam memperingati hari-hari tertentu.

Al Hussein Flowers Rizqi, sebagai dosen Teknik Geologi STTNAS memiliki keinginan untuk melakukan motioring pohon-pohon mangrove yang sudah ditanam setiap bulannya.
“Pada awalnya pohon mangrove ditanam di air, apabila nanti sudah tumbuh maka akan diarahkan lagi. Untuk tahun ini rencananya tiap satu bulan sekali kami akan melakukan monitoring secara intensif.Musuh utama bagi mangrove adalah sampah, mengingat tempat menanam mangrove adalah hilir maka sampah merupakan masalah yang tak dapat dihindari,” kata Dwi.

Kegiatan menanam mangrove ini juga bekerja sama dengan Keluarga Pemuda-Pemudi Pantai Baros (KPPB). Dwi selaku perwakilan dari KPPB memberikan arahan terkait cara menanam mangrove yang benar, dan memberikan edukasi terkait jenis-jenis mangrove, hingga fase-fase pertumbuhan mangrove.Dengan bantuan oleh KPPB, lebih dari puluhan bibit mangrove berhasil ditanam di sekitar pantai Baros.

“Penanaman bibit mangrove ini sangat membantu perkembangan konservasi di pantai Baros. Kegiatan kepedulian alam semacam ini patut untuk diapresiasi dan terus dilaksanakan,” kata Dwi.

Kegiatan ini diikuti oleh 60 orang termasuk mahasiswa, dosen dan warga sekitar. Peserta sebagian besar merupakan mahasiswa. Beberapa peserta masih merasa baru akan kegiatan ini Monica, salah satu peserta kegaitan, mengatakan bahwa kesempatan untuk menanam bakau seperti ini mungkin tak datang dua kali.

“Saya selalu ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bumi. Namun, baru kali ini saya merasa benar-benar menjadi bagian (kegiatan menyelamatkan bumi). Sejujurnya saya baru pertama kali ini mendengar ada kegiatan menanam pohon mangrove, jadi saya begitu bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini,” kata Monica.

“Kami ingin ilmu yang kita miliki bisa diterima oleh orang lain, sekalipun tidak tergabung dalam kegiatan seperti mapala, seperti kegiatan menanam mangrove ini. Kami ingin menjadi pihak yang mengajak orang-orang untuk ikut berpartisipasi dan tahu pentingnya mangrove tak hanya bagi laut, tapi juga bagi air dan bumi,” kata Monica.
(d2)

 

 

 

Delegasi STTNAS yang terdiri dari Ketua Program Vokasi Tugino, S.T.,M.T. didampingi Dr. Subardi, S.T.,M.T. beserta 4 orang mahasiswa selama 4 hari mengadakan kunjungan ke Rajamangala University of Technology Bangkok Thailand, kegiatan ini dalam rangka tindak lanjut dari penandatangan MoU yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Kegiatan implementasi dari MoU adalah penandatangan MoA untuk beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Selama di Thailand diterima oleh Mrs. Prattana Srisuk Ph.D , Director of International College /Asst. President Rajamangala University of Technology Bangkok Thailand.

Kegiatan yang dilakukan adalah visiting professor program serta share learning program. Program visiting professor berupa kegiatan yang melibatkan beberapa dosen dan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan aktifitas Professor di Rajamangala University of Technology Bangkok Thailand. Adapun program share learning adalah kegiatan yang melibatkan mahasiswa2 STTNAS untuk mengikuti sistem perkuliahan di Rajamangala University of Technology Bangkok Thailand selama beberapa waktu dan setelah selesai mengikuti kegiatan tersebut mahasiswa2 akan mendapatkan sertifikat kegiatan yang dapat disetarakan dengan 8 kali tatap muka di kampus. Kegiatan share learning yang sudah disepakati yang tertuang dalam MoA meliputi materi2 tentang : Introduction to Technology , Natural Resource Management , Technology for Future Energy , Practical on laboratory and Mid term Test . Program visiting professor serta share learning juga direncanakan akan dilaksanakan lagi dalam beberapa bulan ke depan dengan melibatkan Dosen dan Mahasiswa dari beberapa program studi yang lain.

Selain mendapatkan pengalaman belajar di kelas internasional selama mengikuti kegiatan share learning program, mahasiswa juga di berikan materi tentang pengenalan keragaman budaya di Thailand . Pengenalan budaya Thailand meliputi pengenalan kultur dan bahasa serta etika dan perilaku warga thailand, hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih memahami dan mengerti budaya dan etika selama belajar Di Thailand