Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) berhasil membuat alat pendeteksi bagi pelanggar marka jalan. Alat yang dilengkapi kamera Closed Circuit Television (CCTV) itu dapat memberi peringatan secara otomatis kepada pelanggar marka jalan di traffic light.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti ini antara lain, Arriski Karindra, Dedy Ariyanto, Rizki Ismail, Dimas Sapri Nugroho dan Rickey Herlambang. Tim ini mengangkat judul Sistem Peringatan Pelanggar Marka Jakan Otomatis Pada Traffic Light di DIY.

Arriski Karindra menjelaskan komponen yang digunakan dalam alat temuannya terdiri atas, kamera CCTV, Raspberry atau mikro komputer, speaker dan amplifier. Jika CCTV di pasang di atas jalan raya, maka tiga komponen lainnya bisa ditempatkan dalam satu titik. Alat itu bisa memberi peringatan secara otomatis kepada pelanggar marka jalan di traffic light.

“Fokus penggunaan pada marka jalan di traffic light yang belok kiri jalan terus. Karena biasanya, banyak pengendara yang sebenarnya dia akan berjalan lurus di persimpangan tetapi di berhenti melanggar marka dan mengambil hak pengendara yang akan berbelok dan ini menjadi masalah kemacetan di Jogja,” kata dia.

Dimas Sapri Nugroho menambahkan cara kerja sistem itu dari kamera yang menangkap gambar pada titik di luar garis marka jalan. Hasil tangkapan kamera akan diproses di raspberry mikro komputer kemudian raspberry memberikan perintah berupa output untuk menampilkan suara pada speaker. Suara itu berisi peringatan ada pengendara yang melanggar marka jalan.

“Kalau integrasi dengan traffic light ketika menyala merah, dia akan memberikan input sinyal menandakan kalau kamera harus siap-siap baru nanti bekerja. Jadi kamera merekam ketika ada objek yang terbaca,” ujarnya.

Risky Ismail mengatakan jika dipantau melalui kamera akan terlihat garis virtual, pengendara yang berada di garis virtual tersebut, berarti berada di luar marka atau melanggar.

Dedy Ariyanto mengatakan biaya pembuatan alat tersebut menghabiskan dana sekitar Rp5 juta, namun jika diproduksi dalam jumlah banyak akan lebih murah. Berdasarkan risetnya, belum ada yang menerapkan alat tersebut terutama di DIY. Ia menemukan ada di Jawa Timur namun tidak otomatis, melainkan petugas yang mengingatkan pengendara secara live dari pantauan CCTV.

“Prinsip kerja alat ini menggunakan cara image processing dengan cara mendeteksi garis dan warna. Warna yang terdeteksi adalah warna putih selain dari putih tidak akan terdeteksi karena garis marka di Indonesia menggunakan warna putih,” jelasnya.

Rickey Herlambang berharap hasil rakitannya bersama tim yang didampingi dosen pembimbing itu bisa memberikan manfaat dan dapat mengurangi kemacetan.

Mahasiswa STTNAS mengikuti lomba Pogram Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul kegiatan “ Pelajar Belajar untuk Mengajar”. Tim PKM STTNAS yang terdiri, Juhair Al Habib, M. Tufik Hidayat dan Muhammad Hafiduddin ini terinspirasi dengan program pemerintah gerakan Indonesia Mengajar.
Dalam kegitan Pengabdian Masyarakat ini mahasiswa PKM STTNas melihat beberpa faktor menurunnya kualitas pendidikan. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 siswa putus sekolah jenjang SD seluruh Indonesia 32.127 anak dan di DIY sebanyak 151 anak putus sekolah (PDSPK 2017).
Tujuan yang ingin dicapai pada program kreatifitas mahasiswa bidang pengabdian kepada masyarakat ini mengajak siswa SMA untuk ikut peduli terhadap dunia pendidikan dengan memberikan motivasi belajar kepada siswa SD. Sekolah dasar yang dijadikan obyek Tim PKM STTNAS ini adalah di Desa Banjarejo, Kecamatan Tunjungsari Kabupaten Gunungkidul. karena didaerah tersebut masih banyak siswa yang putus sekolah dan sedikit minimnya minat siswa untuk belajar.
Juhair Al Habib Ketua Tim PKM STTNas menuturkan, data yang diperoleh seharusnya jumlh anak yang aktif sekolah didesa tersebut 120 anak, tapi hanya 17 anak yang sekolah di SD BOPKRI, serta 39 anak sekolah di SD Muhammadiyah Jarah.
Ditambahkan, metode yang diterapkan dalam program ini “ Pelajar Belajar untuk Mengajar”, merupakan untuk menghubungkan level pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi.
“ Program ini terdapat tiga komponen yakni, mahasiswa sebagai penggerak dan siswa SMA yang berprestasi sebagai Role Model yang akan mendidik, serta siswa SD sebagai objek,” ujarnya.
Selain itu, untuk mendukung metode tersebut dibuat Instrumen Supporting Method yakni, OPINI (Optimis, Inspiratif dan Imitasi), supaya motivasi belajar anak-anak akan meningkat, serta diharapkan masalah pendidikan di Desa Banjerejo dapat teratasi.

 

STTNAS menerima kunjungan dari USM (Universitas Semarang) untuk melakukan study banding Himpunan dan Badan Eksekutif Mahasiswa. Kunjungan tersebut dihadiri oleh 3 program studi yaitu teknik elektro, teknik sipil, teknik PWK dan Badan eksektif mahasiswa yang terdiri dari sekitar 75 mahasiswa dan 2 dosen pendamping.

Kunjungan tersebut bermaksud untuk bertukar pikiran dan saling belajar tentang program kerja himpunan, organisasi dan pelaksanaan di kampus masing-masing. Mahasiswa USM datang sekitar pukul 13.00 dan langsung beranjak ke student center lantai 3 untuk dilakukan pembukaan dan penyambutan kedatangan rombongan USM dari Semarang. Pembukaan dihadiri oleh Bapak Marwanto, S.T, M.T. selaku Puket II dan bapak Fahril Fanani, S.T., M.T. selaku kepala BAK.

“kami berharap acara hari ini menjadi ajang bertukar pikiran dan memberi masukan untuk para himpunan dan Badan Eksekutif Mahasiswa secara demokrasi” terang Bambang dosen pendamping dari USM. Setelah acara pembukaan dilanjutkan ke program studi masing-masing untuk dilakukan pemaparan setiap himpunannya. Himpunan yang datang adalah himpunan Teknik Sipil, himpunan Teknik Elektro dan himpunan teknik PWK, untuk setiap himpunan dilakukan di laboratoriumdan studio yang dimiliki.

Di laboratorium dilakukan pengenalan anggota, tugas dan wewenang dari setiap divisi, dimulai dari himpunan USM dan dilanjutkan dengan himpunan STTNAS. Setelah pemaparan dari kedua himpunan maka dilanjutkan dengan Tanya jawab dan diskusi. Diskusi yang terjadi cukup baik dan lama membuka wawasan kedua himpunan.

Setelah selesai acara di laboratorium dilanjutkan dengan demo laboratorium uji tekan beton di labortaorium bahan struktur yang dilakukan oleh asisten dosen akzan dengan memperlihatkan uji kuat tekan beton dengan menggunakan alat tekan beton yang terbaru. Acara selesai sekitar pukul 16.30 dan dilakukan penutupan di student center lantai 3 dan rombongan USM kembali menuju Semarang.

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNas) mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti melalui sejumlah kreativitas mahasiswa dalam lima kelompok. Salah satunya tim yang mengreasikan limbah drum menjadi kincir angin yang bermanfaat bagi pembudidaya udang.

Salah satu mahasiswa yang tergabung dalam tim pembuatan kincir angin Muhammad Aden Budi Ihtisan menjelaskan ide itu berawal dari turunnya produktivitas udang vaname oleh para pembudidaya di Dusun Kuwaru, Poncosari, Srandakan, Bantul akibat kurangnya sirkulasi udara atau aerasi.

Aerator yang banyak digunakan pembudidaya berbahan bakar minyak atau listrik sehingga butuh biaya tinggi. “Apalagi kecepatan angin di sana cukup mendukung, sehingga kami memanfaatkan energi angin sebagai penggerak pompa yang dapat menghasilkan aerasi tambahan untuk beberapa titik tambak udang,” ucap Aden, Rabu (18/7/2018).

Tim ini menggunakan drum bekas sebagai mekanis penggerak melalui kekuatan angin. Drum bekas tersebut dimodifikasi sedemikian rupa menyerupai kincir dipasang di bagian atas dengan penyangga berupa besi siku. Secara umum ada empat komponen utama untuk membuat alat tersebut yaitu kincir dari drum bekas, kompresor, kerangka besi sebagai penyangga dan air stone.

Perancangan alat menggunakan software komputer agar wujud dari rancangan sesuai dengan alat sebenarnya, baik secara dimensi, fungsi untuk menunjang kemampuan alat. “Alat ini membantu masyarakat untuk efisiensi waktu. Tim kami menghibahkan alat ini kepada warga pembudidaya udang,” kata mahasiswa Teknik Mesin ini.

Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan Dr. Hill Gendoet Hartono, S.T, M.T. menjelaskan pendampingan terhadap tim PKM sudah dilakukan sejak awal mulai dari sosialisasi. Bahkan karya mahasiswa terus dilakukan evaluasi terutama saat presentasi laporan kemajuan dari PKM. Kegiatan PKM sepenuhnya untuk mendukung iklim akademis agar lebih baik.

“Tidak semata-mata mengejar medali, tetapi melalui keikutsertaan dalam PKM ini, bagaimana bisa membangun iklim akademik yang baik,” kata dia.

Ia menambahkan selain pembuatan kincir angin untuk pembudidaya udang, masih ada empat tim PKM lagi dari STTNAS. Antara lain mengangkat judul Sisten Pelanggaran Marka Jalan Otomatis pada Traffic Light di DIY yang dibuat oleh Arriski Karindra, Dedy Aprianto, Dimas Sapri, Rizki Ismaik dan Rickey Herlambang.

Pemanfaatan limbah drum bekas sebagai bahan kincir angin penggerak aerator meningkatkan hasil panen udang Vaname, dibuat oleh lima mahasiswa yaitu Aden Budi Ihtidan, Hasanydin, Oki Andrian, Pebri Pratama dan Danan Aji.

Mahasiswanya juga meneliti tentang analisa potensi dan penentuan zona mineralisasi menggunakan data geomagnet oleh Damas Muharif, Yahdy dan Afru Tri Kristanto. Perancangan smart audio colour detector (SCD) untuk kaum tuna netra yang dibuat oleh Dimas Maulana, Kessy Silvana Leonora dan Ningsih Irianti untuk kategoi PKM Karya Cipta.

“Selain itu PKM Pengabdian Masyarakat yang dikerjakan oleh Juhair Alhabib dan kawan-kawan tentang pelajar belajar untuk mengajar,” jelasnya.