001

Berawal dari keinginan memanfaatkan barang bekas sekaligus mengembangkan energi terbarukan, lima orang mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta berhasil menciptakan kincir angin penggerak pompa air untuk pengairan rumput pakan ternak kambing di lahan pasir. Kincir angin yang di buat dengan dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Ditjen Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti senilai Rp.7,5 juta itu pun telah di serahkan kepada kelompok Ternak Menda Ngrembaka, Patihan Gading Sari Sanden Bantul, untuk dimanfaatkan.

Secara fisik, perbedaan mencolok kincir angin karya kami dengan kincir – kincir angin lainya yang sudah ada di Pantai Selatan Bantul adalah bahan baku dan bentuknya. Kami mengadopsi kincir sumbu vertikal, sedangkan kebanyakan kincir angin di Pantai Baru maupun Pandansimo bersumbu horisontal. Selain itu, bahan bakar kincir angin yang kami gunakan adalah limbah/drum bekas, papar Dimas Anggoro S, mahasiswa Teknik Mesin (S1) STTNAS di kampus Babarsari Sleman Yogyakarta, Sabtu (237).

Tim Mahasiswa STTNAS ini di ketuai oleh Arif P (Teknik Elektro), dengan anggota Dimas Anggoro, Rivan M (Teknik Mesin) dan Pidri (Tekniki Elektro) dengan Dosen Pembimbing Dandung Rudy Hartana, S.T., M.eng. Ketua STTNAS Ir. H. Ircham. M.T. dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Dr. Hill Gendoet, S.T., M.T. pun mengapresiasi karya mahasiswan tersebut, karena merupakan teknologi tepat guna yang langsung bisa di rasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Prinsip kincir angin yang terbuat dari limbah drum bekas yang didesain efektif, efisien dan ekonomis ini adalah menggerakan pompa air untuk mengangkat air dari dalam sumur yang sudah ada sebelumnya, kemudian airnya dialirkan untuk menyirami rumput maupun tanaman lainya yang menjadi sumber pakan ternak kambing warga pesisir.

Mengingat karakteristik angin pantai yang tidak stabil, maka perputaran kincir angin ini direkayasa agar baling –baling bisa membuka saat angin bertiup lambat dan menutup saat angin bertiup kencang, sehingga putaran angin kincir tetap stabil. Sementara kendala yang umumnya menyerang kincir angin di lahan pantai dari laut yang mengandung garam sehingga bersifat korosif dan membuat material logam cepat berkarat. Sebenarnya kalau tidak melalui penelitian terlebih dahulu, kincir angin seperti ini bisa dibuat hanya dengan biaya sekitar Rp.3,5 juta. Namun karena kami harus melakukan penelitian terlebih dahulu, anggarannya sampai Rp.7.5 juta. Total waktu penelitian dan pengerjaan sekitar 4.5 bulan, papar Dimas.

DSC_0511

DSC_0527

DSC_0709

IMG-20160720-WA0004 - Copy

IMG_0002

 

IMG_0003

IMG_0001

Bertempat di ruang D13, Jurusan Teknik Mesin menyelenggarakan kuliah umum pada hari Senin tanggal 18 Juli 2016 dengan pemateri Guru Besar Teknik Mesin STTNAS Prof. Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjosumarto, MSME dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Kuliah umum dimulai pukul 09.00 WIB dengan dihadiri 36 peserta yang terdiri dari dosen, karyawan dan mahasiswa jurusan Teknik Mesin.

Pada kuliah umum itu, Prof. Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjosumarto, MSME menyampaikan materi yang sangat penting di bidang permesinan yaitu Maintenance (Pemeliharaan dan Perawatan) Mesin.

Pada awal kuliahnya Prof. Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjosumarto, MSME menyampaikan pentingnya maintenance karena semua alat dan perangkat produksi pasti mengalami kemunduran kinerja sehingga perlu dilakukan maintenance. Pada akhirnya maintenance itu sangat berpengaruh pada kelancaran dan kualitas produksi, memperpanjang umur mesin dan pengembalian modal.

Materi kuliah umum berikutnya adalah pelaksanaan maintence yang terdiri dari perencanaan maintenance yang tepat dan jenis-jenis maintenace yaitu Corrective/reactive Maintenance (perbaikan jika terjadi kerusakan), Preventive Maintenance (penjadwalan maintenance) serta Improvement Maintenance (pengembangan mesin).

Prof. Dr. Ir. Sri Hardjoko Wirjosumarto, MSME juga menerangkan cabang ilmu Teknik Mesin yang sangat penting pada proses maintenance yaitu Tribology yang mempelajari tentang interaksi antar permukaan benda yang bergerak relatif satu sama lain. Tribology meliputi friction (gesekan), wear (keausan) dan lubrikasi (pelumasan).

103_1285

103_1286

103_1288

103_1294

103_1297

103_1302

 

 

Keluarga Besar STTNAS / YPTN menggelar syawalan di Audiotorium Ir. H. Pietoyo Sukarbowo Gedung Rektorat STTNAS pada Selasa (12/7) pukul 10.00 WIB. Acara ini dihadiri seluruh dosen, karyawan, dan pimpinan. Acara syawalan ini diawali dengan sambutan oleh ketua STTNAS Bpk Ir. H. Ircham, M.T dan Ketua pengurus YPTN Ir. H. Otto Santjoko, M.T.

Dalam kesempatannya Ir. H. Ircham memberikan sambutan menekankan kesadaran kembalinya manusia pada fitrah yang disertai adanya peningkatan amal kebaikan dan saling mendoakan. Beliau juga mengajak kita semua melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan mengingat kebaikan orang yang pernah berbuat baik kepada kita. Sebaliknya, kita harus mengingat kesalahan yang  pernah kita buat dan melupakan kesalahan orang lain terhadap kita.

Acara syawalan dilanjutkan dengan ikrar syawalan yang dibaca secara bersama, kemudian dilanjutkan dengan bersalam – salaman.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

001

 

003

 

002

Image